Prologue:
"Real Madrid perdió de nuevo en contra de su hermano menor. Muy irónico!''
Itulah yang dikatakan Mucho Gonzalez, sportcaster tv Spanyol saat menyiarkan laga kekalahan Real Madrid saat dihantam 4 Gol oleh saudara mudanya Atlètico Madrid dalam lanjutan liga BBVA kemarin. Real Madrid yang secara tim lebih superior, lebih berpengalaman harus kembali menelan kekalahan dari saudara muda sekotanya Atlètico Madrid, ditambah keributan yang melibatkan Arda Turan dengan beberapa pemain Real Madrid, menambah suram malam Madrid Putih wakti itu. Total selama tahun 2015 Real Madrid tidak pernah menang dari Atlètico dengan catatan 4 kali kalah. Tentu semangat pemain-pemain Vicente Calderon mengalahkan saudara tua [Real Madrid] sangat membara, terlebih mereka berdua merupakan musuh bebuyutan sejak era Kekuasaan Jendral Franco di Spanyol.
Hampir senasib dengan Real Madrid. Apa yang dialami Smanja kemarin malam (22 Februari 2015) lagi dan lagi Super Smanja kembali kalah dari saudara muda yang baru beberapa tahun kemarin berdiri, SMK 3 Kendal (Skanega). Super Smanja yang lebih dahulu berpengalaman di event-event futsal kota Semarang harus menelan pil pahit setelah dibobol dua gol oleh anak-anak Skanega.
Babak Pertama
Mengawali pertandingan pertama dengan semangat baru setelah melupakan 3 turnamen yang gagal mereka sabet (MU Kendal CUP, TJPAF, dan Geodetic Undip). Asa terbumbung tinggi di pundak para pemain Super Smanja. Setelah menunggu 4 jam karena jadwal yang ambiradul, tepat pukul 21.45 WIB para pemain memasuki lapangan Knight Stadium. Ardy Wijaya sebagai kapten memulai tos koin dengan kapten lawan. Di depan M. Tatas Irsyad tampak melakukan warm up sebelum kick off dimulai.
Awal babak pertama Smanja baru ini memulai langkah dengan baik, umpan umpan direct pass berhasil diperagakan anak anak asuhan Sarwoko. Tapi belum 5 menit berjalan Ardy Wijaya harus memungut gol dari gawangnya. Selang beberapa menit kemudian kembali gawang Smanja kebobolan oleh anak anak Skanega. Tampak para pemain dan official Skanega di bench pemain sujud syukur menyambut gol kedua mereka.
Alhasil, interval pertama Smanja dipaksa tertinggal 2 gol.
Babak Kedua
Pemain senior macam Ucup Murdani dimainkan, mengomandoi lapangan tengah Ucup dituntut mengatur ritme pemain para juniornya. Berbeda dengan babak pertama, pada babak kedua ini mereka bermain lebih ngotot untuk mengejar ketertinggalan gol. Pressing tingkat tinggi di peragakan, long pass dimainkan. Tapi permainan disiplin pasukan Skanega terbukti ampuh dalam membendung gempuran Super Smanja. Berkali kali Ucup, Tatas, Iqbal bahu membahu membangun serangan.
Waktu terus berjalan.
Ultras Smanja masih terus menghabiskan suara mereka. Hati para Ultras semakin dipermainkan setelah hampir 2 menit pertandingan usai Tim Smanja masih gagal menyarangkan satu gol pun. Terdengar sayup sayup suara para ultras yang masih terus percaya bahwa Smanja masih bisa membalikan keadaan. Tapi lari tinggalah lari, keringat tinggalah keringat. 1 menit menuju permainan usai permainan emosi menjurus kasar mulai bermunculan. Diving tak penting terlihat dari para pemain skanega yang berusaha mengulur waktu. Tampak pemain smanja berusaha menarik pemain skanega yang terkapar di lapangan. Tatas mendapat umpan, tapi sayang bola melambung tinggi diatas mulut gawang. Ucup Murdani menggiring bola kemudian sebuah tekel keras tak membuat wasit bergeming. Tak hanya itu, sebuah handsball oleh pemakn skanega di area circle gawang mereka lagi lagi tak membuat wasit memberi hadiah penalti. This is the part of disgrace. Tak tahan dengan kondisi ini membuat pemain smanja naik pitam. Permainan semakin kasar. Tatas yg dari awal babak kedua terlihat temperamental akhirnya pecah emosi. Seperti apa yang ditampakan oleh pemain pemain yang ribut dalam El Derbie Madrileno. Sebuah tendangan kaki berhasil masuk ke tubuh pemain skanega. Permainan memanas. Para penonton turun ke lapangan dengan saling bertukar bogem mentah. Dari tribun para penonton lain melemparkan barang barang seperti air mineral.
Wasit tampak bingung dalam membuat keputusan setelah berdebat beberapa lama terlihat para pemain smanja menaiki tribun penonton yang di tempati oleh ultras Smanja.
Hingga berita ini diturunkan, tersiar kabar bahwa pertandingan berakhir dengan kedudukan seri, bukan diskualifikasi. Dengan begitu Super Smanja akan tetap menjalani matchday kedua dan keempat dalam lanjutan Passion Unika 2015.
Yup, satu catatan yang tergores oleh pertandingan tadi malam adalah miniatur kecil antara gesrkan Saudara tua dengan Saudara muda persis apa yang terjadi dengan Derbie Kota Madrid.
Boleh saja semalam kita kalah, tapi yakinlah "Siamo Sempre Con Voi" akan berkibar diatas "No Incitamos A La Violencia"!
Smanja Semangat Ini Untukmu!
EDITOR : Simbah Panjul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar