Sabtu, 28 Februari 2015

Ketika Peran 10 Tahun yang Lalu Itu Adalah "Kami".

Special Teaser:

Sepak Bola memang bukan matematika.
Liverpool menunjukan bukti nyata. Di 45 menit pertama, Liverpool sudah tertinggal 3-0 dari AC
milan. Paolo maldini membuka keunggulan Milan dengan mencetak gol tercepat dalam sejarah final
Liga Champions pada menit pertama. Kemudian Hernan Crespo
Menambah keunggulan I Rosonerri dengan dua golnya pada menit ke-38 dan 43. skor pun
bertahan sampai turun minum.
Tapi mimpi indah untuk Milan hanya terjadi di interval 45 menit pertama, dan tidur panjang itupun harus dibangunkan oleh mimpi buruk yang lain. Ya! Milan hancur lebur dalam waktu 5 menit!
Gol Gerarrd pada menit 55 menyulut sumbu peledak anak-anak Rafa Benitez, belum genap 1 menit pemain Milan menguasai bola, lagi lagi melalui Vladimir Smicer gol kembali bersarang di gawang Milan tepat di menit ke 56!
Tapi itu belum selesai, lagi dan lagi dalam sepakbola 5 menit bisa merubah segalanya, kali ini Xabi Alonso yang menceploskan rebound Dida pada menit ke 60. Ya 5 menit petaka bagi Milan.

Cerita belum selesai. Kedudukan 3-3 bertahan
hingga 90 menit. Pertandingan diperpanjang
hingga 30 menit, tapi tetap tak bisa menentukan
pemenang. Juara Liga Champions musim itu pun
harus diselesaikan melalui babak adu penalti.
Sebelum "babak perjudian" itu dimulai Jamie Carragher datang menghampiri kiper Jerzy Dudek.
Carra menyarankan Dudek agar melakukan
"sesuatu" untuk mengacaukan konsentrasi pemain Milan. Memutarkan kaki dan mendekati pemain penendang Milan, entah apa yang dikatakan api cara itu terbukti ampuh. Hasilnya? Shevchenko gagal menyarangkan bola dan membuat LFC juara Champions untuk kelima kalinya!

10 tahun berlalu, siapa sangka kejadian di momok Instanbul berpindah ratusan ribu kilometer di sebuah tempat bernama Knight Stadium! Sabtu malam (28 Februari 2015) Smanja menatap Semifinal Passion Unika 2015 dengan kepercayaan diri yang penuh. Usai menyudahi perlawanan SMA NU Ungaran sehari sebelumnya.
Aura Instanbul benar benar terasa di awal pertandingan. Bagas Murdani mencetak gol tercepat dalam sejarah Passion Unika pada detik pertama, persis apa yang dicetak Maldini ke gawang LFC pada menit pertama!
Tak sampai situ, anak-anak pembangunan berkali-kali di cecar habis oleh barisan penyerangan Smanja macam Tatas Irsyad dan Surya Muhammad. Pada menit ke-3 hampir saja Bagas Murdani menggandakan keunggulan, sayang sontekannya masih bisa ditepis kiper Stemba.
Akhirnya serangan Smanja pecah telur di pertengahan babak 1 melalui gol yang dicetak oleh Bagas Murdani serta gol melalui kaki Surya Muhammad. Leading Smanja dengan skor 3-0 usai babak pertama berakhir.

Ultas Smanja yang datang memenuhi sisi barat tribun Knight Stadium tak henti hentinya menyanyikan chants chants penyemangat persis apa yang dilakukan oleh fans Milan kala itu.

Interval babak kedua dimulai. Setan Instanbul benar benar semakin menjadi. Ketika babak kedua tinggal 5 menit konsentrasi pemain Smanja seakan buyar, entah apa yang ada di benak mereka, stamina atau pecah komsentrasi yang jelas berondongan 3 gol menhujam telak di gawang Ardi Wijaya, terlebih gol ketiga merupakan blunder kiper berusia 16 tahun tersebut ini juga hampir mirip apa yang dilakukan Dida saat Alonso menceploskan bola ke gawang Milan. Kedudukan menjadi status quo alias imbang 3-3.

Ultras Smanja semakin dirundung kegusaran, tiket final yang di depan mata seakan pergi menjauh dari genggaman tangan mereka.
Pertandingan dilanjutkan oleh adu tendangan pinalti. Para eksekutor telah dipersiapkan oleh kedua tim.
Tendangan pertama dilakukan bagi Smanja, kali ini algojo penalti diserahkan pada pemain muda, Tatas Irsyad. Entah teringat cara ritual Dudek menahan penalti atau tidak tapi yang pasti kiper Stemba saat itu melakukan ritual kuno "Menyalami penendang dan mencium bola" seperti apa yang dilakukan Dudek kala menahan penalti Andriy Shevchenko. Dan baaam! Ritual tersebut sukses menepis tendangan Tatas Irsyad.
Tendangan pertama Stemba sukses bersarang di gawang Ardi Wijaya.
Tendangan kedua dihadapi oleh Bagas Murdani dan sukses masuk ke gawang Stemba. Namun penendang kedua Stemba gagal berbuah gol. Dan setelah itu kedua tim sukses mencetak gol hingga kuota penendang habis.

Alhasil koin toss dilakukan untuk menentukan siapa yang akan menjadi penendang terakhir.
Bola untuk Smanja dan gawang bagi Stemba. "Bila gol Smanja ke final bila gagal berhenti di semifinal"
Penendang terakhir Smanja tinggal tersisa Iqbal Rizaldi. Harapan Smanja terselip di pundak Iqbal Rizaldi. Dengan ancang-ancang yang cukup jauh...... tapi sayang Bola melambung jauh diatas mistar. Smanja berhenti di semifinal. Semua pemain menitikan air mata. Tatas yang merupakan debut pertama di Passion tak berhenti menahan derasnya air mata. Pendukung Smanja terhenyak oleh suara Spartan [Fans club Stemba]. Ultras Smanja seakam tak percaya bahwa mereka meliat miniatur Final Instanbul disini. Tak percaya bahwa pemeran utama 10 tahun yang lalu adalah apa yang ada di depan mereka saat ini. Tapi sepakbola bukan hanya persoalan siapa menang siapa kalah, tapi lebih dari itu ketika emosi, riak tenggorokan, kemenangan, serta kesedihan dilalui bersama oleh pemain, suporter, kawan serta lawan.
Terimakasih Ultras Smanja para pemain Super Smanja. Berikan apa yang bisa kalian beri untuk Smanja, bukan apa yang Smanja berikan untuk kalian.
Tetap dukung Smanja kapapun berlaga. Smanja Till I Die..

Dejavu itu nyata.
Editor: Simbah Panjul

Jumat, 27 Februari 2015

Mencoba Mengulang Memori Indah

Prologue:

2 Tahun Lalu. Di event yang sama "Passion 2013" SMAN 1 Boja mengukir tinta emas di dunia futsal Kota Semarang. Yap, kala itu tim futsal Smanja sukses mencapai partai semifinal kompetisi Passion Unika 2013. Sesuatu yang mengejutkan memang ketika tim luar Kota Semarang berhasil menembus semifinal yanh kala itu merupakan ajang Passion yang pertama diselenggarakan.

Menghadapi SMA Institut Indonesia, anak-anak asuhan Sarwoko ini tidak diunggulkan mengingat tim Smanja minim jam terbang ketika bermain kompetisi futsal di wilayah Semarang. Namun dengan kepercayaan berlapis, tanpa disangka SS Mahdafi dan kolega berhasil menjungkalkan SMA II dengan skor 2-1 melalui dwi gol yang dicetak oleh SS Mahdafi dan Leo. Permainan taktis yang diperagakan anak-anak Laskar Turun Gunung berhasil meladeni permainan cepat pemain SMA II, tak lupa kegemilangan kiper Bayu Sandi dibawah mistar dalam menahan gempuran serangan lawan berhasil membawa Smanja meraih tiket final Passion 13.

2 tahun berlalu, setelah gagal di Passion '14, Smanja kembali ke trek juara setelah pagi hari tadi [28 Februari 2015] meraih tiket 4 besar usai menyudahi perlawanan SMA NU Ungaran dengan skor 2-0 melalui gol yang dicetak oleh M. Tatas Irsyad.
Untuk dapat menyamai rekor 2 tahun lalu, Smanja harus melewati hadangan tim favorit juara SMKN 7 Semarang (Stemba). Bukan hal yang mustahil untuk dapat mengalahkan tim juara TJPAF '14 tersebut. Terlebih permainan anak-anak Smanja semakin padu terlihat di 4 pertandingan terakhir mereka dapat menyarangkan total 15 gol!
Di pertandingan melawan Stemba kemungkinan tidak terjadi perubahan signifikan. Di bawah mistar masih dipercayakan pada Ardi Wijaya, Ucup Murdani masih akan menjadi poros lini tengah sedang  Tatas Irsyad di depan sebagai goal getter.
Melawan Stemba tak hanya butuh skill dan stamina,namun dukungan pemain tambahan. Ya, dukungan Ultras Smanja diharapkan dapat dimaksimalkan untuk pertandingan ketika melawan Stemba dengan harapan mental pemain menjadi memuncak dan bermain dengan kepercayaan yang penuh.

Singkat kata salah satu lirik chants akan menutup catatan kali ini:

"Ayo dukung Smanja agar jadi juara kita kawal bersama untuk selama-lamanya!"

DATANG DAN KAWAL SMANJA HINGGA FINAL!

Editor: Simbah Panjul

Senin, 23 Februari 2015

Last Matchday Super Smanja : Safety Play

Prologue:

11 Desember 2014. Grup H kualifikasi Champions League memanas! Apa penyebabnya? Yup, 2 tim (Shaktar Donetsk dan Atletic Bilbao berebut tiket 16 besar untuk mendampingi FC Porto yang terlebih dahulu dipastikan lolos terlebih dahulu.
Shaktar Donetsk yang berada di posisi 2 dipaksa meladeni FC Porto yang merupakan pemuncak klasemen. Serta Atletic Bilbao yang berada di peringkat 3 dipaksa bermain pesta gol melawan tim juru kunci BATE Borisov, jika ingin lolos ke babak berikutnya.
Hasil seri saja sudah bisa membuat Shaktar lolos bersama FC Porto, namun mereka tidak sendiri. Ada Atletic Bilbao yang bermain di kandang sendiri menghadapi BATE.
Di Basque (Kandang Bilbao), Atletic berhasil menjalankan tugas mereka dengan menghempaskan BATE dengan 2 gol tanpa balas lewat gol Mikel San Jose dan Markel Susaeta. Ini membuat Shaktar harus minimal seri melawan Porto. Benar saja, anak-anak asuhan Mircea Lucescu berhasil menahan imbang tim yang tidak pernah kalah FC Porto. Dengan begitu berapapun skor yang dimenangkan oleh Bilbao tidak akan membuat posisi Shaktar Donetsk di tempat kedua tergoyahkan. Akhirnya malam penuh ketegangan itu berakhir manis bagi para suporter Shaktar Donetsk.

Momen Liga Champions itulah yang coba ingin diulang oleh para penggawa Super Smanja. Menghadapi partai terakhir Grup G Passion Unika, Anak Laskar Turun Gunung harus menghadapi SMK 1 Semarang (Stemsa) yang sebelumnya menyapu bersih kemenangan 2 partai sebelumnya melawan SMA Setia Budi mereka menang 6-1 sedang matchday kemarin mengandaskan perlawanan Skanega dengan kemenangan tipis 1-0. Di waktu lain, Smanja berhasil berpesta gol 8 gol tanpa balas melawan tim semenjana SMA Setia Budi. Hal itu membuat SMK 1 Semarang mengoleksi 6 poin dengan defisit positif 6 gol, di tempat kedua ada Smanja dengan koleksi 4 poin (dengan asumsi pertandingan lawan Skanega dihitung seri) berbekal defisit gol positif 8. Di peringkat ketiga ada Skanega dengan 1 poin serta juru kunci sekaligus tim yang tak mungkin lolos SMA Setia Budi dengan 0 poin.
Di partai terakhir [24.02.2015] 1 tim dipastikan lolos yaitu Stemsa. Serta 1 tiket lain yang diperebutkan adalah tiket runner up antara Smanja atau Skanega.
Situasi ini hampir serupa dengan kondisi Liga Champions yang sudah diuraikan di atas tadi. Tim peringkat kedua akan menghadapi juara grup serta tim peringkat ketiga akan menghadapi tim juru kunci.
Secara matematis, hasil seri saja sudah bisa membuat Smanja lolos mendampingi Stemsa. Namun, akan jadi kacau jika Smanja kalah telak dari Stemsa sedangkan Skanega berhasil pesta gol di gawang Setia Budi.
Bukan tidak mungkin posisi Smanja akan sangat sulit, mengingat pertemuan terakhir Smanja dipaksa kalah dengan skor telak 5-1 dari Stemsa! Sedangkan akan menjadi tugas yang relatif mudah bagi skanega untuk berpesta gol di gawang tim dengan pertahanan terapuh, SMA Setia Budi.

Jika ingin lolos, bermain aman bisa menjadi kunci permainan Surya Muhammad dkk. Rapatkan pertahanan dan meminimalisir kebobolan cepat di awal pertandingan. Akhir-akhir sering dilihat Super Smanja terlambat panas di beberapa pertandingan, itu membuat pertahanan Smanja sering kecolongan di awal babak pertama. Tapi ini adalah futsal dimana PERTAHANAN TERBAIK ADALAH MENYERANG! Seperti apa yang dikatakan Justin Laksana (Mantan pelatih timnas futsal).
Pertandingan nanti sore akan menjadi misi khusus bagi Super Smanja. Yang pertama adalah revans untuk membalas kekalahan yang lalu. Dan yang kedua adalah merebut tiket 16 besar!

Bayarlah peluh keringat mu, gantilah riak suara Ultras Smanja dengan kemenangan!

Siamo Sempre Con Voi..
Super Smanja Till I Die

Editor: SIMBAH PANJUL

Minggu, 22 Februari 2015

Super Smanja: War Crysis!

Prologue:

"Real Madrid perdió de nuevo en contra de su hermano menor. Muy irónico!''
Itulah yang dikatakan Mucho Gonzalez, sportcaster tv Spanyol saat menyiarkan laga kekalahan Real Madrid saat dihantam 4 Gol oleh saudara mudanya Atlètico Madrid dalam lanjutan liga BBVA kemarin. Real Madrid yang secara tim lebih superior, lebih berpengalaman harus kembali menelan kekalahan dari saudara muda sekotanya Atlètico Madrid, ditambah keributan yang melibatkan Arda Turan dengan beberapa pemain Real Madrid, menambah suram malam Madrid Putih wakti itu. Total selama tahun 2015 Real Madrid tidak pernah menang dari Atlètico dengan catatan 4 kali kalah. Tentu semangat  pemain-pemain Vicente Calderon mengalahkan saudara tua [Real Madrid] sangat membara, terlebih mereka berdua merupakan musuh bebuyutan sejak era Kekuasaan Jendral Franco di Spanyol.

Hampir senasib dengan Real Madrid. Apa yang dialami Smanja kemarin malam (22 Februari 2015) lagi dan lagi Super Smanja kembali kalah dari saudara muda yang baru beberapa tahun kemarin berdiri, SMK 3 Kendal (Skanega). Super Smanja yang lebih dahulu berpengalaman di event-event futsal kota Semarang harus menelan pil pahit setelah dibobol dua gol oleh anak-anak Skanega.

Babak Pertama
Mengawali pertandingan pertama dengan semangat baru setelah melupakan 3 turnamen yang gagal mereka sabet (MU Kendal CUP, TJPAF, dan Geodetic Undip). Asa terbumbung tinggi di pundak para pemain Super Smanja. Setelah menunggu 4 jam karena jadwal yang ambiradul, tepat pukul 21.45 WIB para pemain memasuki lapangan Knight Stadium. Ardy Wijaya sebagai kapten memulai tos koin dengan kapten lawan. Di depan M. Tatas Irsyad tampak melakukan warm up sebelum kick off dimulai.

Awal babak pertama Smanja baru ini memulai langkah dengan baik, umpan umpan direct pass berhasil diperagakan anak anak asuhan Sarwoko. Tapi belum 5 menit berjalan Ardy Wijaya harus memungut gol dari gawangnya. Selang beberapa menit kemudian kembali gawang Smanja kebobolan oleh anak anak Skanega. Tampak para pemain dan official Skanega di bench pemain sujud syukur menyambut gol kedua mereka.
Alhasil, interval pertama Smanja dipaksa tertinggal 2 gol.

Babak Kedua
Pemain senior macam Ucup Murdani dimainkan, mengomandoi lapangan tengah Ucup dituntut mengatur ritme pemain para juniornya. Berbeda dengan babak pertama, pada babak kedua ini mereka bermain lebih ngotot untuk mengejar ketertinggalan gol. Pressing tingkat tinggi di peragakan, long pass dimainkan. Tapi permainan disiplin pasukan Skanega terbukti ampuh dalam membendung gempuran Super Smanja. Berkali kali Ucup, Tatas, Iqbal bahu membahu membangun serangan.
Waktu terus berjalan.
Ultras Smanja masih terus menghabiskan suara mereka. Hati para Ultras semakin dipermainkan setelah hampir 2 menit pertandingan usai Tim Smanja masih gagal menyarangkan satu gol pun. Terdengar sayup sayup suara para ultras yang masih terus percaya bahwa Smanja masih bisa membalikan keadaan. Tapi lari tinggalah lari, keringat tinggalah keringat. 1 menit menuju permainan usai permainan emosi menjurus kasar mulai bermunculan. Diving tak penting terlihat dari para pemain skanega yang berusaha mengulur waktu. Tampak pemain smanja berusaha menarik pemain skanega yang terkapar di lapangan. Tatas mendapat umpan, tapi sayang bola melambung tinggi diatas mulut gawang. Ucup Murdani menggiring bola kemudian sebuah tekel keras tak membuat wasit bergeming. Tak hanya itu, sebuah handsball oleh pemakn skanega di area circle gawang mereka lagi lagi tak membuat wasit memberi hadiah penalti. This is the part of disgrace. Tak tahan dengan kondisi ini membuat pemain smanja naik pitam. Permainan semakin kasar. Tatas yg dari awal babak kedua terlihat temperamental akhirnya pecah emosi. Seperti apa yang ditampakan oleh pemain pemain yang ribut dalam El Derbie Madrileno. Sebuah tendangan kaki berhasil masuk ke tubuh pemain skanega. Permainan memanas. Para penonton turun ke lapangan dengan saling bertukar bogem mentah. Dari tribun para penonton lain melemparkan barang barang seperti air mineral.
Wasit tampak bingung dalam membuat keputusan setelah berdebat beberapa lama terlihat para pemain smanja menaiki tribun penonton yang di tempati oleh ultras Smanja.
Hingga berita ini diturunkan, tersiar kabar bahwa pertandingan berakhir dengan kedudukan seri, bukan diskualifikasi. Dengan begitu Super Smanja akan tetap menjalani matchday kedua dan keempat dalam lanjutan Passion Unika 2015.

Yup, satu catatan yang tergores oleh pertandingan tadi malam adalah miniatur kecil antara gesrkan Saudara tua dengan Saudara muda persis apa yang terjadi dengan Derbie Kota Madrid.

Boleh saja semalam kita kalah, tapi yakinlah "Siamo Sempre Con Voi" akan berkibar diatas "No Incitamos A La Violencia"!

Smanja Semangat Ini Untukmu!
EDITOR : Simbah Panjul