Special Teaser:
Sepak Bola memang bukan matematika.
Liverpool menunjukan bukti nyata. Di 45 menit pertama, Liverpool sudah tertinggal 3-0 dari AC
milan. Paolo maldini membuka keunggulan Milan dengan mencetak gol tercepat dalam sejarah final
Liga Champions pada menit pertama. Kemudian Hernan Crespo
Menambah keunggulan I Rosonerri dengan dua golnya pada menit ke-38 dan 43. skor pun
bertahan sampai turun minum.
Tapi mimpi indah untuk Milan hanya terjadi di interval 45 menit pertama, dan tidur panjang itupun harus dibangunkan oleh mimpi buruk yang lain. Ya! Milan hancur lebur dalam waktu 5 menit!
Gol Gerarrd pada menit 55 menyulut sumbu peledak anak-anak Rafa Benitez, belum genap 1 menit pemain Milan menguasai bola, lagi lagi melalui Vladimir Smicer gol kembali bersarang di gawang Milan tepat di menit ke 56!
Tapi itu belum selesai, lagi dan lagi dalam sepakbola 5 menit bisa merubah segalanya, kali ini Xabi Alonso yang menceploskan rebound Dida pada menit ke 60. Ya 5 menit petaka bagi Milan.
Cerita belum selesai. Kedudukan 3-3 bertahan
hingga 90 menit. Pertandingan diperpanjang
hingga 30 menit, tapi tetap tak bisa menentukan
pemenang. Juara Liga Champions musim itu pun
harus diselesaikan melalui babak adu penalti.
Sebelum "babak perjudian" itu dimulai Jamie Carragher datang menghampiri kiper Jerzy Dudek.
Carra menyarankan Dudek agar melakukan
"sesuatu" untuk mengacaukan konsentrasi pemain Milan. Memutarkan kaki dan mendekati pemain penendang Milan, entah apa yang dikatakan api cara itu terbukti ampuh. Hasilnya? Shevchenko gagal menyarangkan bola dan membuat LFC juara Champions untuk kelima kalinya!
10 tahun berlalu, siapa sangka kejadian di momok Instanbul berpindah ratusan ribu kilometer di sebuah tempat bernama Knight Stadium! Sabtu malam (28 Februari 2015) Smanja menatap Semifinal Passion Unika 2015 dengan kepercayaan diri yang penuh. Usai menyudahi perlawanan SMA NU Ungaran sehari sebelumnya.
Aura Instanbul benar benar terasa di awal pertandingan. Bagas Murdani mencetak gol tercepat dalam sejarah Passion Unika pada detik pertama, persis apa yang dicetak Maldini ke gawang LFC pada menit pertama!
Tak sampai situ, anak-anak pembangunan berkali-kali di cecar habis oleh barisan penyerangan Smanja macam Tatas Irsyad dan Surya Muhammad. Pada menit ke-3 hampir saja Bagas Murdani menggandakan keunggulan, sayang sontekannya masih bisa ditepis kiper Stemba.
Akhirnya serangan Smanja pecah telur di pertengahan babak 1 melalui gol yang dicetak oleh Bagas Murdani serta gol melalui kaki Surya Muhammad. Leading Smanja dengan skor 3-0 usai babak pertama berakhir.
Ultas Smanja yang datang memenuhi sisi barat tribun Knight Stadium tak henti hentinya menyanyikan chants chants penyemangat persis apa yang dilakukan oleh fans Milan kala itu.
Interval babak kedua dimulai. Setan Instanbul benar benar semakin menjadi. Ketika babak kedua tinggal 5 menit konsentrasi pemain Smanja seakan buyar, entah apa yang ada di benak mereka, stamina atau pecah komsentrasi yang jelas berondongan 3 gol menhujam telak di gawang Ardi Wijaya, terlebih gol ketiga merupakan blunder kiper berusia 16 tahun tersebut ini juga hampir mirip apa yang dilakukan Dida saat Alonso menceploskan bola ke gawang Milan. Kedudukan menjadi status quo alias imbang 3-3.
Ultras Smanja semakin dirundung kegusaran, tiket final yang di depan mata seakan pergi menjauh dari genggaman tangan mereka.
Pertandingan dilanjutkan oleh adu tendangan pinalti. Para eksekutor telah dipersiapkan oleh kedua tim.
Tendangan pertama dilakukan bagi Smanja, kali ini algojo penalti diserahkan pada pemain muda, Tatas Irsyad. Entah teringat cara ritual Dudek menahan penalti atau tidak tapi yang pasti kiper Stemba saat itu melakukan ritual kuno "Menyalami penendang dan mencium bola" seperti apa yang dilakukan Dudek kala menahan penalti Andriy Shevchenko. Dan baaam! Ritual tersebut sukses menepis tendangan Tatas Irsyad.
Tendangan pertama Stemba sukses bersarang di gawang Ardi Wijaya.
Tendangan kedua dihadapi oleh Bagas Murdani dan sukses masuk ke gawang Stemba. Namun penendang kedua Stemba gagal berbuah gol. Dan setelah itu kedua tim sukses mencetak gol hingga kuota penendang habis.
Alhasil koin toss dilakukan untuk menentukan siapa yang akan menjadi penendang terakhir.
Bola untuk Smanja dan gawang bagi Stemba. "Bila gol Smanja ke final bila gagal berhenti di semifinal"
Penendang terakhir Smanja tinggal tersisa Iqbal Rizaldi. Harapan Smanja terselip di pundak Iqbal Rizaldi. Dengan ancang-ancang yang cukup jauh...... tapi sayang Bola melambung jauh diatas mistar. Smanja berhenti di semifinal. Semua pemain menitikan air mata. Tatas yang merupakan debut pertama di Passion tak berhenti menahan derasnya air mata. Pendukung Smanja terhenyak oleh suara Spartan [Fans club Stemba]. Ultras Smanja seakam tak percaya bahwa mereka meliat miniatur Final Instanbul disini. Tak percaya bahwa pemeran utama 10 tahun yang lalu adalah apa yang ada di depan mereka saat ini. Tapi sepakbola bukan hanya persoalan siapa menang siapa kalah, tapi lebih dari itu ketika emosi, riak tenggorokan, kemenangan, serta kesedihan dilalui bersama oleh pemain, suporter, kawan serta lawan.
Terimakasih Ultras Smanja para pemain Super Smanja. Berikan apa yang bisa kalian beri untuk Smanja, bukan apa yang Smanja berikan untuk kalian.
Tetap dukung Smanja kapapun berlaga. Smanja Till I Die..
Dejavu itu nyata.
Editor: Simbah Panjul